'Aqidah Thinah Agama Syi'ah

Para pemeluk agama Syi'ah meyakini bahwa mereka tercipta dari tanah yang khusus, sedangkan Ahlus Sunnah tercipta dari tanah yang lain, lalu terjadilah pengadukkan antara kedua tanah tadi dengan cara tertentu, maka apa-apa yang terdapat pada orang Syi'ah dari kemasiatan dan kejahatan, maka itu merupakan pengaruh dari tanah Ahlus Sunnah. Dan apa-apa yang terdapat pada Ahlus Sunnah dari kebaikan dan anamah, maka itu disebabkan oleh pengaruh tanah Syi'ah. Dan ketika hari Kiamat nanti, maka kejelekan dan dosa-dosa orang Syi'ah diletakkan di atas Ahlus Sunnah, dan kebaikan (pahala) Ahlus Sunnah akan diberikan kepada orang Syi'ah.

Aqidah ini merupakan salah satu ajaran syiah yang tersembunyi dan termasuk salah satu diantara aqidah yang harus sangat dirahasiakan khususnya kepada orang-orang awam syiah. Karena seandainya mereka mengetahui aqidah ini maka mereka akan melakukan hal-hal yang sifatnya merusak dengan satu keyakinan bahwa balasannya di akherat kelak akan ditanggung oleh orang lain.

Pada awalnya memang aqidah ini merupakan hal yang ditolak di kalangan cendekiawan syiah yang terdahulu, seperti Al-Murtadha dan Ibn Idris. Dikarenakan menurut pandangan mereka – meskipun beberapa riwayat telah berhasil menyusup ke dalam kitab-kitab syiah – akan tetapi hal itu merupakan hadits ahad (tunggal), oleh karena itu wajib ditolak.

Namun sejalan dengan waktu, riwayat yang ada tentang hal tersebut semakin banyak sehingga berkata syaikh mereka Ni’matullah Al-Jaza’iri:

إنّ أصحابنا قد رووا هذه الأخبار بالأسانيد المتكثّرة في الأصول وغيرها، فلم يبق مجال في إنكارها، والحكم عليها بأنّها أخبار آحاد، بل صارت أخبارًا مستفيضة، بل متواترة 

Sesungguhnya ulama-ulama kami telah meriwayatkan tentang hal ini dengan sanad yang sangat banyak, maka sudah tidak ada alasan lagi untuk mengingkarinya. Dan tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa status riwayatnya adalah ahad, akan tetapi sudah menjadi khobar MUSTAFIDH BAHKAN MUTAWATIR (banyak jalan periwayatannya) [Al-Anwar An-Nu'maniyyah 1/212]
  • Al-Jaza’iri mengatakan demikian ini sebagai bantahan terhadap mereka yang menolak mempercayai aqidah ini (aqidah thinah)
Kemudian yang  tampak mempelopori aqidah ini adalah Syaikh mereka yang bernama Al-Kulaini yang menulis sebuah bab tersendiri dalam bukunya: ”Bab: Thinatul Mukmin wal Kafir”.  Yang terangkum di dalamnya tujuh hadits. Kemudian hadits tentang ini semakin banyak sepeninggal Kulaini, hingga Mulla Baqir Al-Majlisi dalam Biharul Anwar mengutip 67 hadits tentang thinah dalam bab yang berjudul “Bab: Thinah dan Perjanjian”. Barangkali para pembaca ingin sekali mengetahui lebih lanjut tentang aqidah thinah yang membuat seorang syiah mempunyai keyakinan; apabila mereka melakukan perbuatan dosa sekecil apapun maka dosanya akan ditanggung oleh Ahlus Sunnah, dan setiap amal shaleh yang dikerjakan Ahlus Sunnah maka pahalanya akan diberikan kepada orang syiah. Oleh karena itu kalangan ulama syiah menyembunyikan hal ini dari orang awam syiah karena satu kekhawatiran apabila hal ini diketahui maka akan banyak terjadi kerusakan di muka bumi (karena kaum syiah akan merasa bebas berbuat apa saja, selama dosanya akan ditanggung oleh Ahlus Sunnah).

Penjelasan terlengkap mengenai aqidah ini ada dalam kitab “Illal Asy-Syarai’” karangan Ibnu Babawaih Al-Qummi yang memuat penjelasan ini dalam kitabnya sebanyak 5 halaman sekaligus menjadikan bahasan ini sebagai penutup kitabnya. Sementara itu sebagian ulama syiah yang hidup pada saat ini memuji penjelasan Ibnu Babawaih dan menyebutnya sebagai penutup yang baik bagi kitabnya.

Ringkasan keyakinan itu adalah bahwasanya kaum syiah diciptakan dari tanah liat khusus dan orang sunni diciptakan dari tanah liat yang lain. Maka terjadilah percampuran antara keduanya. Jadi apabila terjadi kemaksiatan di kalangan syiah adalah dikarenakan percampurannya dengan tanah (thinah) sunni, dan apabila dijumpai kebaikan dan amanah yang ada di kalangan sunni merupakan pengaruh dari thinah syiah. Maka nanti dihari kiamat segala keburukan yang dilakukan oleh kaum syiah, akan ditanggungkan kepada orang sunni, dan kebaikan kaum sunni akan diberikan kepada kaum syiah.

Barangkali bisa disimpulkan sebab timbulnya keyakinan semacam ini adalah dikarenakan adanya pertanyaan dan keluhan-keluhan yang dilontarkan  kepada para pemuka mereka. Kaum syiah mengeluhkan  kaum mereka yang tenggelam dalam kemaksiatan dan dosa-dosa besar dan juga adanya muamalah yang tidak baik yang terjadi di antara mereka serta banyak kegelisahan dan kebimbangan yang tidak diketahui sebabnya. Akan tetapi para ulama syiah berdalih bahwa hal ini disebabkan karena percampuran antara thinah syiah dan thinah sunni pada penciptaan pertama.

Untuk itu marilah kita lihat sebagaian di antara pertanyaan ini yang mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat syiah, Ibnu Babawaih meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Ishaq Al Laitsi berkata:

قلت لابي جعفر محمد بن علي الباقر عليه السلام يابن رسول الله اخبرني عن المؤمن المستبصر إذا بلغ في المعرفة وكمل هل يزنى؟ قال: اللهم لا، قلت: فيلوط؟ قال: اللهم لا، قلت: فيسرق؟ قال: لا، قلت: فيشرب الخمر؟ قال: لا، قلت: فيأتي بكبيرة من هذه الكبائر أو فاحشة من هذه الفواحش؟ قال: لا قلت: فيذنب ذنبا؟ قال: نعم هو مؤمن مذنب ملم، قلت ما معنى ملم قال: الملم بالذنب لا يلزمه ولا يصير عليه قال: فقلت سبحان الله ما اعجب هذا لا يزنى ولا يلوط ولا يسرق ولا يشرب الخمر ولا يأتي بكبيرة من الكبائر ولا فاحشة، فقال: لا عجب من امر الله، ان الله تعالى يفعل ما يشاء ولا يسئل عما يفعل وهم يسئلون فمم عجبت يا ابراهيم؟ سل ولا تستنكف ولا تستحي فان هذا العلم لا يتعلمه مستكبر ولا مستحي، قلت: يابن رسول الله اني أجد من شيعتكم من يشرب الخمر ويقطع الطريق ويخيف السبل ويزنى ويلوط ويأكل الربوا ويرتكب الفواحش ويتهاون بالصلاة والصيام والزكاة ويقطع الرحم ويأتي الكبائر، فكيف هذا ولم ذاك؟ فقال: يا ابراهيم هل يختلج في صدرك شئ غير هذا، قلت: نعم يابن رسول الله اخرى اعظم من ذلك! فقال: وهو ما يا أبا اسحاق؟ قال: فقلت يابن رسول الله وأجد من اعدائكم ومنا صبيكم من يكثر من الصلاة ومن الصيام ويخرج الزكاة ويتابع بين الحج والعمرة ويحرص على الجهاد ويأثر على البر وعلى صلة الارحام ويقضي حقوق اخوانه ويواسيهم من ماله ويتجنب شرب الخمر والزنا واللواط وسائر الفواحش فمم ذاك؟ ولم ذاك؟ فسره لي يابن رسول الله وبرهنه وبينه، فقد والله كثر فكري وأسهر ليلي وضاق ذرعي 

”Saya bertanya kepada Abu Ja’far Muahmmad ibn Ali Al-Baqir 'Alaihis Salam: 'Wahai putra Rasulullah, beritahukan kepada kami tentang seorang mukmin yang benar, apabila dia sampai pada puncak ma’rifat dan sempurna mungkinkah dia berzina?' Dia berkata: 'Tidak.'  Saya berkata: 'Mungkinkah ia akan minum khomer?' Dia berkata: 'Tidak.' Saya bertanya: 'Mungkinkah melakukan salah satu dari dosa besar atau salah satu dari hal yang keji.' Dia berkata: ' Tidak.'  Saya berkata: 'Wahai putra Rasulullah, sesungguhnya saya dapati orang-orang syiah kita meminum khomer, melakukan perampokan di jalan dan menjadi hantu di jalanan, berzina dan melakukan homosex, memakan riba, melakukan perbuatan keji, meremehkan shalat, puasa dan zakat, memutuskan hubungan sillaturrahmi dan banyak memperbuat dosa-dosa besar, bagaimana hal ini bisa terjadi pada syiah dan sangat berbeda dengan keadan orang sunni?' Dia berkata: 'Wahai Ibrahim adakah sesuatu yang lain yang masih bergejolak dalam hatimu?' Saya berkata: 'Wahai putra Rasulullah!, ada beberapa hal yang lebih besar dari itu semua!' Dia berkata: 'Apa itu wahai Abu Ishaq?' Berkata (perawi): 'Kemudian saya berkata: 'Wahai putra Rasulullah, saya dapati musuh-musuh kalian , justru mereka banyak melakukan shalat, puasa dan mengeluarkan zakat. Mereka juga begitu giat melakukan ibadah haji dan umrah, bersemangat melakukan jihad, kebaikan, menyambung sillaturrahmi, memenuhi hak saudaranya, meringankan beban derita mereka dengan harta, menjauhi minuman keras, zina dan homosex serta segala perbuatan keji, bagaimana hal ini bisa terjadi pada mereka dan terjadi sebaliknya pada syiah? Tolong jelaskan hal ini semua kepadaku dengan sejelas-jelasnya. Sungguh hal ini telah banyak memakan fikiranku, membuat aku tidak bisa tidur dan dadaku menjadi sempit.'" [Bihar Al-Anwar 5/228-229, 'Ilal Asy-Syarai' 2/606-607]

Seorang penanya lain bernama Ishaq Al-Qummi bertanya pada Abu Ja’far:

 جعلت فداك فقد أرى المؤمن الموحد الذي يقول بقولي ويدين الله  بولايتكم وليس بيني وبينه خلاف يشرب المسكر ، ويزني ، ويلوط ، وآتيه في حاجة  واحدة فاصيبه معبس الوجه ، كامح اللون ، ثقيلا في حاجتى ، بطيئا فيها ; وقد أرى الناصب المخالف لما أنا عليه ويعرفني بذلك فآتيه في حاجة فاصيبه طلق الوجه ، حسن  البشر ، متسرعا في حاجتي ، فرحا بها ، يحب قضاءها ، ( 1 ) كثير الصلاة ، كثير الصوم ، كثير  الصدقة ، يؤدي الزكاة ، ويستودع فيؤدي الامانة  

“Aku menjadi tembusanmu wahai Abu Ja’far, aku melihat seorang mukmin yang berkata dengan perkataanku (sependapat denganku), dan dia beragama dengan mengakui wilayah kalian (Ahlul Bait), dan tidak ada perselisihan antara aku dengannya, dia selalu minum khomer, berzina, melakukan homosex, dan jika aku datang kepadanya untuk meminta bantuan maka aku dapati dia murung mukanya, mencerminkan wajah kebencian dan ketidaksenangan, lagi berlambat-lambat dalam membantu keperluanku, tapi sebaliknya, aku melihat seorang nashibi yang juga al-mukhalif (yang berbeda aqidah), jika aku mendatanginya untuk meminta bantuan, aku dapati wajahnya berseri-seri, nampak dari wajahnya kegembiraan, dan bersemangat dalam membantuku, merasa gembira dengan membantuku, dia banyak melakukan Shalat, Puasa, Sedekah dan Mengeluarkan Zakat, serta jika diberi Amanah maka dia menyampaikannya." [Bihar Al-Anwar 5/246-247, 'Ilal Asy-Syarai' 2/490]

Penanya barusan lebih banyak keluhannya tentang buruknya perlakuan antara penganut syiah, sifat tidak amanat yang ada pada mereka sedangkan dia melihat kaum sunni yang notabene adalah musuhnya ternyata lebih baik akhlaknya dari kaum syiah yang notabene adalah temannya sendiri, lebih senang membantu keperluannya dan lebih baik amal ibadahnya.

Seseorang lagi mengeluh pada Abu Abdillah Ja’far Ash-Shadiq tentang perasaan gelisah yang tidak diketahui sebabnya:

عن أبي بصير قال: دخلت على أبي عبد الله، ومعي رجل من أصحابنا فقلت له: جعلت فداك يا ابن رسول الله، إني لأغتم وأحزن من غير أن أعرف لذلك سببًا 

"Dari Abu Bashir dia berkata: 'Saya masuk menemui Abu Abdillah bersama seseorang dari teman kami (syiah) lalu aku berkata: 'Wahai Abu Abdillah, saya selalu merasa gelisah dan sedih tanpa kuketahui sebabnya…" [Bihar Al-Anwar 5/242]

Rupanya penyebab kegelisahan ini adalah ajaran syiah yang tidak memiliki kejelasan dan penuh dengan kontradiksi, yang diyakini oleh syiah. Tetapi sang imam hanya menjelaskan semua itu dengan aqidah thinah ini.

Pertanyaan di atas dan lainnya masih banyak, mencerminkan betapa dan bagaimana mereka membangun aqidah mereka, muamalah mereka dan akhlak serta agama mereka. Akan tetapi para imam mereka dan pemuka agama mereka berusaha mengelabui pertanyaan dan keluhan-keluhan ini dengan berdalih pada satu aqidah yang mereka namakan dengan thinah. Untuk itu marilah kita lihat jawaban para imam mereka.

ياإسحاق ليس تدرون من أين أوتيتم ؟ قلت : لا والله ، جعلت فداك إلا  أن تخبرني ، فقال : ياإسحاق إن الله عزوجل لما كان متفردا بالوحدانية ابتدأ الاشياء لا من شئ ، فأجرى الماء العذب على أرض طيبة طاهرة سبعة أيام مع لياليها ، ثم نضب الماء عنها فقبض قبضة من صفاوة ذلك الطين ، وهي طينتنا أهل البيت ، ثم قبض قبضة من أسفل ذلك الطينة ، وهي طينة شيعتنا ، ثم اصطفانا لنفسه ، فلو أن طينة شيعتنا تركت كما تركت طينتنا لما زنى أحد منهم ، ولا سرق ، ولا لاط ، ولا شرب المسكر ، ولا اكتسب شيئا مما ذكرت ، ولكن الله عزوجل أجرى الماء المالح على أرض ملعونة سبعة أيام وليالها ، ثم نضب الماء عنها ; ثم قبض قبضة ، وهي طينة ملعونة من حمأ مسنون ، ( 2 ) وهي طينة خبال ، ( 3 ) وهي طينة أعدائنا ، فلو أن الله عزوجل ترك طينتهم كما أخذها لم تروهم في خلق الآدميين ، ولم يقروا بالشهادتين ، ولم يصوموا ، ولم يصلوا ، ولم يزكوا ، ولم يحجوا البيت ، ولم تروا أحدا منهم بحسن خلق ، ولكن الله تبارك وتعالى جمع الطينتين طينتكم وطينتهم فخلطهما وعركهما عرك الاديم ، ومزجهما بالمائين فما رأيت من أخيك من شر لفظ أو زنا ، أو شئ مما ذكرت من شرب مسكر أو غيره ، فليس من جوهريته ولا من إيمانه ، إنما هو بمسحة الناصب اجترح هذه السيئات التي ذكرت ; وما رأيت من الناصب من حسن وجه وحسن خلق ، أو صوم ، أو صلاة أو حج بيت ، أو صدقة ، أو معروف فليس من جوهريته ، إنما تلك الافاعيل من مسحة الايمان اكتسبها وهو اكتساب مسحة الايمان . قلت : جعلت فداك فإذا كان يوم القيامة فمه ؟ ( 4 ) قال لي : يا إسحاق أيجمع الله الخير والشر في موضع واحد ؟ إذا كان يوم القيامة نزع الله عزوجل مسحة الايمان منهم فردها إلى شيعتنا ، ونزع مسحة الناصب بجميع ما اكتسبوا من السيئات فردها على أعدائنا ، وعاد كل شئ إلى عنصره الاول الذي منه ابتدأ ; أما رأيت الشمس إذا هي بدت ألا ترى لها شعاعا زاجرا متصلا بها أو بائنا منها ؟ قلت : جعلت فداك الشمس إذا هي غربت بدا إليها الشعاع كما بدا منها ، ولو كان بائنا منها لما بدا إليها . قال : نعم يا إسحاق كل شئ يعود إلى جوهره الذي منه بدا ، قلت : جعلت فداك تؤخذ حسناتهم فترد إلينا ؟ وتؤخذ سيئاتنا فترد إليهم ؟ قال : إى والله الذي لا إله إلا هو 

(Berkata Imam mereka; Al-Baqir 'Alaihis Salam) :  ”Wahai Ishaq (perawi riwayat) bukankah kau mengetahui dari mana kau diciptakan?" Aku berkata: ”Demi Allah aku tidak tahu, aku menjadi tebusanmu, kecuali engkau memberitahukan hal itu kepadaku." Maka Imam berkata: ”Wahai Ishaq, Sesungguhnya Allah Ta’ala ketika menyendiri dengan keEsaan-Nya, Dia memulai sesuatu dengan tanpa apapun, kemudian Dia mengalirkan air yang segar pada tanah yang baik selama tujuh hari tujuh malam, kemudian memisahkan tanah itu dari air. Kemudian Allah mengambil satu genggaman dari tanah yang bersih itu satu genggam tanah (thinah) yang kemudian Dia jadikan thinah kita, Thinah Ahlul Bait. Kemudian Dia ambil dari bawahnya satu genggaman (thinah) dan menjadikannya menjadi thinah Syi'ah kita. Kalaulah Allah Ta’ala membiarkan thinah Syi'ah tadi sebagaimana adanya, niscaya tidak ada salah seorang diantara mereka yang berzina, minum khomer, mencuri, homosex dan juga tidak akan melakukan seperti apa yang kamu sebutkan tadi. Akan tetapi Allah Ta’ala mengalirkan air yang asin pada tanah yang terlaknat selama 7 hari, lalu memisahkan air dari tanah itu, lalu Dia mengambil segenggam dari tanah itu, yaitu thinah yang terlaknat berwarna hitam dan berbau busuk, yaitu thinah musuh kita. Dan kalaulah Allah Ta’ala membiarkan thinah ini sebagaimana Dia mengambilnya niscaya kamu tidak akan melihat mereka berakhlak seperti manusia dan tidak akan bersyahadat, mereka tidak akan puasa, tidak akan shalat  dan juga tidak akan melakukan haji. Akan tetapi Allah Ta’ala mencampur  kedua air tadi, maka apabila kamu melihat dari saudaramu  perkataan yang tidak baik, mereka melakukan zina, atau apapun seperti yang kamu sebutkan, mulai dari minum khomer dan yang lainnya, hakekatnya hal itu bukan dari asli mereka dan juga bukan dari iman mereka. Akan tetapi pada hakekatnya hal itu adalah pengaruh dari kaum Nashibi (maksudnya Ahlus Sunnah) yang melakukan keburukan sebagaimana yang kamu sebutkan. Adapun kebaikan-kebaikan yang dilakukan kalangan Nashibi (maksudnya Ahlus Sunnah), mulai dari akhlak yang baik, shalat, puasa, shodaqah, atau haji pada hakekatnya bukan merupakan asli mereka, akan tetapi merupakan pengaruh keimanan yang mereka dapatkan." Kemudian aku berkata: ”Aku menjadi tebusanmu, maka bagaimana nanti di hari Kiamat?" Dia berkata kepadaku: ”Wahai Ishaq,  adakah Allah akan mengumpulkan kebaikan dan keburukan dalam satu tempat? Apabila datang hari kiamat, maka Allah akan mengambil berkas keimanan dari mereka kemudian dikembalikan kepada pemiliknya yang asli. Dan segala sesuatu akan kembali pada unsurnya yang pertama..." Kemudian aku bertanya: ”Apakah kebaikan mereka akan diambil dan dikembalikan kepada kita? Dan apakah keburukan kita akan dikembalikan kepada mereka?"  Berkata: ”Ya, demi Allah yang tidak ada Ilah kecuali Dia." [Bihar Al-Anwar 5/247-248, 'Ilal Asy-Syarai' 2/490-491]

Inilah aqidah Thinah. Dan pada bagian akhir dituliskan:

خذها إليك يا أبا إسحاق، فوالله إنّه لَمِن غرر أحاديثنا، وباطن سرايرنا، ومكنون خزائننا، وانصرف ولا تطلع على سرّنا أحدًا إلا مؤمنًا مستبصرًا، فإنّك إن أذعت سرّنا بليت في نفسك ومالك وأهلك وولدك 

”Ambilah pengertian ini bersamamu wahai Abu Ishaq, demi Allah sesungguhnya dia adalah termasuk orang yang menyembunyikan rahasia kita. Dan pergilah dan jangan diceritakan kepada siapapun kecuali seorang mukmin yang mustabshir karena jika kamu sebarkan kepada manusia artinya kamu akan mendatangkan bencana bagi diri kamu sendiri, pada harta, keluarga dan anak kamu sekalian.“ [Ilal Asy-Syarai' 2/610, Bihar Al-Anwar 5/233]

Maka hal ini sebagaimana kita saksikan merupakan aqidah yang sangat rahasia, maka apakah akan terlintas di benak pencetus aqidah ini bahwasanya akan terkuak di tangan kaum sunni kemudian menyebarluaskannya pada khalayak sebagai sebuah kebusukan...?

Bantahan terhadap keyakinan ini:

Pertama: Riwayat yang saling bertentangan, sebagaimana anda lihat dalam  pertanyaan dan keluhan di atas, bahwasanya orang syiah adalah kaum yang tenggalam dalam kemaksiatan dan kemungkaran, mempunyai muamalah yang buruk dan akhlak yang bejat, lantas bagaiamana mungkin dia merupakan makhluk yang diambilkan dari thinah yang bersih dan merupakan ciptaan yang paling suci?

Kedua: Allah Ta’ala telah menciptakan manusia semuanya berada pada fitrah Islam. Allah Ta’ala berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ 

”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah diberikan kepada manusia. Tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah dan itulah agama yang lurus.” (QS. Ar-Ruum: 30)

Ketiga: Dalam masalah thinah ini, syiah berarti telah memakai faham bahwa manusia terikat atas apa yang dikerjakannya dengan sebuah takdir, manusia tidak memiliki pilihan, yang mana perbuatan manusia berdasarkan thinah awalnya. Padahal madzhab mereka menyatakan bahwa manusia mampu menciptakan perbuatannya sendiri sebagaimana madzhab Mu’tazilah.

Keempat: Riwayat-riwayat tentang thinah ini menyatakan bahwa keburukan dan kemaksiatan yang dilakukan kalangan syiah akan dibebankan dosanya kepada kaum sunni dan kebaikan yang telah dikerjakan kamu muslimin pahalanya akan diberikan kepada kaum syiah. Hal ini jelas sekali bertentangan dengan keadilan Allah dan juga berlawanan dengan akal sehat dan fitrah manusia. Serta sangat bertentangan dengan Ayat-Ayat berikut:

Artinya: ”Dan seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.“ (QS. Al-An’am: 164).

Artinya: ”Tiap-tiap diri akan bertanggung-jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al-Mudatsir: 38).

Artinya: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji sawipun niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa yang melakukan kejelekan seberat biji sawipun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Al-Zalzalah: 7-8).

ِArtinya: "Pada hari ini akan dibalas setiap diri dengan apa yang telah diperbuatnya, tidak ada kedzaliman pada hari itu." (QS. Ghafir/Al-Mu'min: 17).

Dan masih banyak Ayat yang lainnya.

Makalah ini menyatakan tentang kebusukan mereka, cukup menggambarkan bagaimana kerusakan aqidah mereka, madzhab Syiah Imamiyah. Sampai sekarang kaum syiah tidak malu untuk menyatakan tentang aqidah ini. Hal ini dapat ditemukan dalam kitab-kitab mereka seperti di atas yang dikomentari oleh pakar syiah yang menyatakan sikap setuju dan keridhaannya terhadap aqidah sesat ini.

Kita selalu menanti bantahan resmi dari Hauzah Ilmiyah di Qum maupun Najaf, bahwa syiah tidak meyakini keyakinan yang dijelaskan di atas. Karena hanya Hauzah Ilmiyah lah yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas untuk membantahnya, bukannya orang-orang yang baru masuk syiah 7 atau 10 tahun yang lalu.

-----oOo-----

Tulisan ini mengambil dari artikel hakekat.com dengan Penambahan dan Penyesuaian.


Related Posts

No Response to "'Aqidah Thinah Agama Syi'ah"

Posting Komentar